Spiritual Creativity

Apa sih Spiritual Creativity itu?

Oh, mungkin proses kreativitas dengan kecerdasan spiritual kali ya, tapi kecerdasan spiritual itu apa?

Seluruh dunia pasti familiar dengan IQ, dulu kecerdasan itu dipatok berdasarkan IQ, kalo orang IQnya tinggi, pasti pinter, cerdas, brilian, namun lama-lama paradigma itu melemah setelah adanya EQ yaitu kecerdasan emosional. Hadirnya EQ pun menggeser paradigma bahwa orang yang cerdas adalah selalu orang yang ber-IQ tinggi, karena tanpa kecerdasan emosi, seorang manusia pun akan mengalami kesulitan dalam berkembang dan memanfaatkan kecerdasannya.

Munculnya Emotional Quotient ini juga membuka jalan baru untuk orang-orang mulai mengenal yang namanya Spiritual Quotient, yaitu kecerdasan spiritual. Setelah saya Googled, saya dapat informasi kalau otak SQ cara kerjanya berfikir unitif. Yaitu kemampuan untuk menangkap seluruh konteks yang mengaitkan antar unsur yang terlibat. Kemampuan untuk menangkap suatu situasi dan melakukan reaksi terhadapnya, menciptakan pola dan aturan baru.
Kemampuan inimerupakan ciri utama kesadaran, yaitu kemampuan untuk mengalami dan menggunakan pengalaman tentang makna dan nilai yang lebih tinggi.

Jadi kalo bisa saya simpulkan, Spiritual Creativity itu menggunakan aspek Spiritual Quotient, yaitu berkreatifitas dengan menggunakan kecerdasan spiritual, yang mana otak kita dapat menangkap seluruh konteks dan memiliki kemampuan untuk mengaitkan unsur-unsur yang terlibat, juga kemampuan bereaksi terhadap suatu situasi, juga mampu untuk membuat pola dan aturan baru dari konteks tersebut.

Beberapa tanda dari kecerdasan spiritual yang baik yaitu kita mampu bersikap fleksibel dan adaptif secara spontan dan aktif, kita memiliki tingkat kesadaran yang tinggi , kita memiliki kemampuan untuk menghadapi dan mengatasi kerugian/penderitaan dan bisa move on dan memanfaatkan penderitaan/kerugian itu sebagai suatu hal yg jadi motivasi kita. Kualitas hidup kita juga ditentukan oleh visi dan nilai-nilai yang dipegang, memiliki kecenderungan melihat sesuatu dengan konteksnya dan melihat keterkaitan antar berbagai hal/holistik. Kita juga memiliki kecenderungan nyata untuk bertanya “mengapa?” atau “bagaimana jika” untuk mencari jawaban-jawaban mendasar  dan mampu bersikap mandiri.

Jadi, sudah cerdas kah spiritual kita?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s